Jumat, 29 Juni 2012

seni budaya lokal islam indonesia


SENI BUDAYA LOKAL ISLAM INDONESIA
Oleh :
Miftahul Huda 
Abstrak :
Sebagaimana  kita ketahui  bahwa masyarakat Indonesia mempunyai berbagai budaya. Terlebih budaya-budaya itu mengandung seni keislamannya. Namun jauh sebelumnya, bangsa Indonesia sudah memeluk agama Hindu Budha. Domisnasi kebudayaan ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Islam datang dan mempengaruhi kebudayaanlokal. Maka terjadilah perpaduan antara kebudayaan local Hindu Budha dengan kebudayan islam. Dalam pekembangan selanjutnya, dominasi kebudayaan islam local semakin kuat dan menjadi kebudayaan Nusantara yang bercorak Islam.
Keywords:
             Seni, budaya, lokal, islam,
       I.            Pendahuluan
Budaya di Nusantara tidak terlepas dai peran penting agama Islam. Pada abd ke VII M, Indonesia telah mengenal agama islam. Setelah melalui proses akulturasi (perpaduan budaya), sosialisasi Islam di Nusantaa telah mencapai tahap perkembangan penting terhadap tumbuhnya pusat peradapan Islam. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Indonesia telah memberi sumbangan besar dalam bidang kebuadayaan nasional.
Kontirbusi Islam atau pengaruhnya tehadap budaya yang ada di Indonesia tidak perlu diragukan lagi,  seperti dalam bentuk sastra dan bahasa Arab. Konsep ummah[1] yang menyamakan harkat dan martabat manusia di hadapan tuhan. Kemudian juga penerimaan Bahasa Melayu sebagai bahasa kesehariaan (lingua franca) dalam menyebarkan Islam. Pendek kata, Islam telah mewarnai pola hidup dan kehidupan seluruh banga Indonesia dan telah menjadi kekuatan kebudayaan dan peradaban bangsa.
    II.            Pengertian Seni
Kata “seni” merupakan sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan tingkat pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata “sani” yang artinya Jiwa Yang Luhur atau Ketulusan jiwa. Dalam bahasa Inggris dengan istilah “ART” (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah kegiatan.
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian tentang seni seperti Aristoteles, dia mengemukakan seni yaitu kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu. Kemudian menurut Ki Hajar Dewantara yang mengemukan seni itu indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya. Sedangkan menurut Ensiklopedia seni adalah sebuah penciptaan benda atau segala hal yang karena kendahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar.
Namum seni dalam konteks ini, diarahkan kepada seni yang mengangkat nilai-nilai islam dan ajarannya. Sebab, sampai saat ini seni hanya dipahami sebatas pengertian lahiriah. Sementara pengertian yang mengarah kepada dunia (dalam batin), belum mendapat perhatian para peminat, para ahli dalam bidang ke-islaman dan kesenian itu sendiri.
Ada beberapa pendapat para ahli seni yang berlatar belakang Islam dan memiliki aqidah yang kuat karena telah teruji pada perjalanan ruang dan waktu, anatara lain :
a)      Ibnu arabi[2]
Seni Islam adalah usaha untuk menciptakan keharmonisan hubungan antara kemurnian dan spiritualitas.
b)      Muhammad Qutub (ulama besar)
Seni Islam adalah ekpresi tentang keindahan dan perwujudan fitrah manusia dalam memaknai alam dan hidup secara benar dan sempurna.
c)      Imam Ghazali
Seni adalah keterkesanan hati seseorang dalam memahami alam dunia dan keindahannya, sehingga getaran nada music hatinya tersentuh secara fitrawiyah.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa seni menurut kaum muslimin, adalah seni yang melahirkan sebuah kepribadian muslim yang utuh antara lahir dan batinnya, antara dirinya, dan kedekatannya kepada Allah (fitrah dan takwanya) . sehingga seni Islam selalu berusaha mengembangkan  bagi pemeluknya untuk mencapai kesempurnaan hidup ( memperbaiki ahlak).

 III.            Jenis-jenis Karya Seni Bernuansa Islam
Nuansa seni Islami yang telah digarap dan dipopulerkan masyarakat Islam di Indonesia berpuluh-puluh tahun antara lain:
a.       Seni kaligrafi Al-Qur’an dan Al-Hadits
Seni Kaligrafi yang artinya karya tulis tangan indah hasil kreasi estetik[3] seseorang yang berguna untuk memenuhi kebutuhan jiwa muslim (rohani) dalam mencintai Al-Qur’an dan As-Sunah Nabi. Karena keindahannya, seni kaligrafi ini dapat difunsikan untuk hiasan, logo, stempel, sampul kitab, pesan-pesan tauhid dan moral untuk kaum muslimin, penulisan ayat-ayat Al-Qur’an, dan masih banyak lagi fungsi-fungsinya.
Di Indonesia, seni Kaligrafi ini telah berkembang mulai abad 12 masehi atau semenjak kerajaan Islam muncul dan berdiri dibeberapa wilayah Indonesia, seperti Aceh, Demak, Ternate, Tidore, Maluku, Cirebon, Banten, Madura, Nusa Tenggara barat, dan sebagainya.
Adapun corak atau gaya seni Kaligrafi, yang berkembang di Indonesia, antara lain, seperti gaya kufi[4], gaya Naskhi, gaya Ri’qi, gaya Farisi, dan gaya   Diwani.
Gaya kufi ini terdiri dari bentuk-bentuk geomatris kaku dan matematik. Biasanya digunakan untuk mengias masjid, gedung-gedung pemerintah, tembok-tembok dinding istana raja, gapura masjid, majalah, benda-benda senjata dan sebagainya.
b.      Hiasan (ornament) Arabeska
Ragam hias Arabeska,yaitu jenis hiasan yang salin jalin menjalin simpai, lilit melilit tumpang tindih seperti irama huruf Arab. Ragam hias ini sebenarnya isinya berupa sederetan huruf Arab, tetapi dibentuk seperti bentuk binatang, (burung, singa, kuda) manusia maupun buah-buahan, dan sebagainya.
c.       Seni music (Handasah al-Shawt)
Istilah music berasal dari bahasa arab “musiqa” artinya suara. Dalam pengertian Islam, music atau Handasah al Shawt adalah terbatas pada kualitas suara untuk jenis irama atau lagu dalam pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Jadi pembahasan music Islam tidak bertalian dengan keberadaan kualitas instrumentalnya atau kualitas vokalitasnya.
d.      Seni Arsitektur
Kehadiran Islam telah mendorong lahirnya ciptaan-ciptaan baru dalam seni bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Islam, misalnya bangunan masjid sebagai pusat beribadah dan berkumpulnya umat Islam. Masjid di Aceh, Demak, Kudus dan di daerah lain di Nusantara merupakan kekayaan seni arsitektur yang terus berkembang sampai sekarang. Karya seni arsitektur pengaruh Islam juga tampak dalam bangunan keraton-keraton kerajaan Islam. Disamping itu, seni arsitektur juga tampak dalam makam-makam para raja kerajaan Islam di Nusantara.
e.       Seni Tari
Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan shalawat. Misalnya pada seni rebana diikuti dengan tari-tarian zipin[5], bacaan shalawat dengan menggunakan lagu-lagu tertentu.
f.       Seni Sastra
Seni sastra yang berkembang pada zaman Islam umumnya berkembang di daerah sekitar Selat Malaka (daerah Melayu) dan di Jawa. Ditinjau dari corak dan isinya, kesusastraan zaman Islam dibagi menjadi beberapa jenis, meskipun pembagian itu tidak dapat dilakukan secara tegas sebab sering terjadi suatu naskah dapat dimasukkan ke dalam dua golongan sekaligus. Jenis-jenis karya sastra zaman Islam di antaranya adalah sebagai berikut:

1)      Hikayat
Hikayat adalah cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Tidak jarang hikayat berpangkaI pada tokoh-tokoh sejarah atau peristiwa yang benar- benar terjadi.
2)      Babad
Babad adaIah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. DaIarn babad, tokoh, tempat, dan peristiwa harnpir semua ada daIam sejarah, tetapi penggarnbarannya diIakukan secara berlebihan. Contohnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Giyanti, dan Babad Pakepung. Di daerah Melayu, babad dikenaI dengan nama sejarah sarasilah (siIsilah) atau tambo, yang juga diberi juduI hikayat. Contohnya Tambo Minangkabau, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat Sarasilah Perak.
3)      Suluk
SuIuk adaIah kitab-kitab yang menguraikan soaI tasawuf. Kitab suluk sangat rnenarik karena sifatnya pantheisme, yaitu menjeIaskan tentang bersatunya rnanusia dengan Tuhan (mangunggaling kawulo lan Gusti). Pujangga-pujangga kerajaan dan para waIi banyak menghasiIkan karya-karya sastra jenis suIuk ini, antara lain ; sunan Bonang (mengernbangkan iImu suIuk daIam bentuk puisi yang dibukukan daIam Kitab Bonang), Hamzah Fansuri[6] (menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman), misalnya Syair Perahu dan Syair dagang.

 IV.            Pengertian Budaya Lokal
Budaya memiliki arti yang berbeda dengan seni. Kalau budaya merupakan hasil budi dan daya manusia dalam rangka memenuhi seluruh kehidupan hidupnya. Sedangkan seni merupakan bagian dari hasil proses manusia berbudaya, yang menghasilkan sesuatu yang indah dan menarik hati atau diri sendiri dan orang lain.
Dalam bahasa Sanskerta budaya yaitu buddhayah  yang berarti budi (akal)  dan daya (kekuatan). Hasil budi daya manusia tidak hanya seni saja, tetapi bisa berbentuk teknologi, ekonomi, bahasa, system religi, system bermasyarakat dan sebagainya.
Beberapa pendapat para ahli kebudayaan yang merumuskan pengertian-pengertiannnya, yaitu:
a.       Dr. J. Verkuyl
Budaya dari bahasa sanskerta yaitu budaya merupakan bentuk jamak dari budi menjadi budaya, yang berarti roh atau akal. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia,
b.      Prof. Dr. koencaraningrat
Budaya berasal dari kata “budayyah” bentuk jamak dari budhi. Jadi kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.
c.       Prof. Selo Sumardjan
Kebudayaan adalah rasa yang meliputi jiwa manusia dalam mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai kemasyarakatan secara luas. Seperti agama, ideology, kebatinan kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia yang hidup dalam suatu masyarakat.
Sedangkan pengertian budaya local adalah sebuah hasil usaha manusia yang berupa cipta, rasa, karsa yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik lahir maupun batiniyah dalam masyarakat tertentu yang bersifat tradisional lokal dan kesederhanaannya. Karena kelokalan dan kedaerahannya, budaya lokal bentuknya beragam. Keragaman budaya lokal disebabkan karena persoalan geografis.
Walaupun bersifat lokal dan bersifat tradisional, tetapi dengan datangnya Islam keragaman budaya tersebut dapat diterapkan untuk kepentingan nilai-nilai ketauhidtan masyarakat tersebut. Islam bernilai ketahuhidan yang akan membentuk manusia untuk berlaku penuh dengan kesucian, kefitrahan pengagungan kepada Allah SWT.
Dengan demikian apa yang dikatakan oleh para ahli (pendapat) di atas, kalau disimpulkan sebenarnya menuju kepada kemuliaan hidup manusia. Walau hanya dilakukan sekelompok lokal manusia.

    V.            Pendekatan dakwah islam dengan seni budaya lokal
Beberapa peneliti mengemukakan, berkembangnya islam di Indonesia secara perlahan tetapi pasti dan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan dalam hal kesuksesan dakwah islam dalam hal kesuksesan dakwah Islam, dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
a.       Pengaruh Ulama
Ulama adalah orang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT dalam bidang keilmuan Islam. Keilmuan yang dimiliki para ulama mulai dari ilmu fiqh, ushuludin, muamalah, akhlaq, keimanan (aqidah), ketasawufan, sampai ahli dalam penciptaan peralatan kebutuhan hidup manusia, seperti; alat pertanian, transportasi, dan perdagangan menjadi daya tarik masyarakat untuk masuk Islam.
Metode yang dilakukan para ulama pada masa itu, para ulama tidak menghapus secara total adat yang sudah berlangsung di masyarakat. Mereka memasukkan ajaran-ajaran islam dalam adat-adat tersebut. Dengan harapan masyarakat tidak merasa kehilangan adat dan ajaran Islam dapat diterima. Dengan demikian, budaya Islam yang ada di Indonesia bukan merupakan ajaran Islam yang harus diamalkan, tetapi sebagai metode dakwah pada masa itu. Pengaruh para Wali Songo di Jawa, para Anjengan di Sunda, para Kyai di Jawa Tengah, Para Tuan Guru[7] di Nusa tenggara. Mereka rata-rata memiliki ilmu yang tinggi, berahlaq mulia, dan bermata pencaharian sendiri dengan hasil olah cipta alat-alat teknologi sederhana sendiri. Dimata masyarakat, Ulama ini memiliki kewibaan tersendiri.
b.      Pengaruh para tokoh Empu
Empu[8] adalah orang yang diberi kelebihan dalam olah jiwa dan kreasi daya cipta seni budaya di berbagai bidang keahlian, seperti; karya sastra, tulis menulis, kesenirupaan, keahlian lain; kesufian dan kefilsafatan. Para empu ini mendapat kedudukan yang tinggi dimata masyarakat dan para pemegang istana.  Untuk mengembangkan keilmuan dan keahliannya, para empu dibantu para cantrik dan mentrik[9]. Karena keahliannya dalam hal teknis dan artistic inilah, para empu menjadi tempat bertanya sekaligus sebagai guru masyarakat.

 VI.            Jenis Seni Budaya dan Tradisi yang bernilai Islam
Berbagai karya seni budaya tradisi Islam yang berkembang di Indonesia, yang menjadi kekuatan untuk menjaga kesatuan dan pergaulan, mengandung ajaran akhlaq mulia, yang digarap para da’i, mubaalik, para wali, dan juga dorongan para raja-raja di Nusantara, antara lain :
a.       Karya Seni Rupa lokal Tradisional
1)      Seni Arsitektur Keraton dan Kasultanan
Arsitektur keratin dan kasultanan di Nusantara, rata-rata bercorak tradisi religio-magis, yang terdiri dari: ruang pasebahan, sitihinggil, alun-alun, pasar, dan masjid. Contohnya seperti istana keratin Surakarta, Kasultanan Cirebon, Kasultanan Demak, dan sebagainya.
2)      Makam atau nisan
Makam dalam tradisi Islam di Indonesia berbentuk mar,era tau batu dan bermahkota seperti kubah masjid (maesan), terkadang berhiaskan tulisan kaligrafi atau arabeska. Contohnya seperti Makam Sultan Malikus Shaleh di Samudra Pasai, makam para Wali di Jawa.
3)      Bentuk Arsitek bangunan Masjid, Surau, Langgar khas Indonesia
Masjid di Indonesia beratap tumpang mirip pura pada masa hindu, atap ini menjadi prototype sebagian besar masjid di Indonesia. Perbedaannya hanya pada jumlah atap tumpangnya, ada yang bertumpang 3, 5, dan 6. Bentuk bangunan Masjid di Indonesia merupakan gabungan antara konsep pura dan bangunan kelenteng.


4)      Wayang
salah satu budaya Jawa hasil akulturasi dengan budaya India. Cerita-cerita pewayangan diambil dari kitab Ramayana dan Bharatayudha. Setelah terjadi akulturasi dengan Islam tokoh-tokoh dan cerita pewayangan diganti dengan cerita yang bernuansa Islam. Bagi orang jawa, wayang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan karenasarat dengan pesan-pesan moral yang menjadi filsafat hidup orang Jawa.
b.      Karya Seni Musik lokal
1)      Shalawatan
Music Shalawatan merupakan music perkusi terbang yang dipukil bergantian dengan sair dan puisi yang dilagukan dengan irama Arab atau Jawa.
2)      Macapat
Macapatan[10], berupa jenis lagu Jawa yang sudah diatur komposisinya. Penampilan tanpa iringan music, tetapi hanya vocal saja.
3)      Orkes Gambus
Musik gambus mirip dengan Shalawatan, tetapi alat-alat musiknya ditambah dengan viola accordion, mandolin, dan bahkan beberapa alat music elektrik.
4)      Gamelan Sekaten
Gamelan jawa yang ditabuh saat upacara sekaten peng-islaman bagi yang akan masuk agama islam dengan pembacaan syahadat. Sekaten ini dilaksanakan pada bulan maulud.
VII.            Perbedaan Seni Budaya Islam dan Bukan Islam
a.       Seni Budaya Islam
1)      Menyuarakan nilai-nila ketauhidan
2)      Ajakan terhadaop kemakrufan dan melarang kemudharatan
3)      Tidak bertentangan dengan Qur’an dan sunnah
4)      Tdak membawa kearah kemaksiatan
5)      Bernilai kesalehan social dan keteladanan amaliyah
6)      Menggerakkan ukhuwah islamiyyah
b.      Seni budaya bukan Islam
1)      Menyuarakan nilai-nila keduniaan
2)      Bernuansa kemusrikan dan kekufuran
3)      Bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
4)      Menyuarakan dan membangkitkan nafsu
5)      Melupakan adanya Allah dan nama-nama-Nya
6)      Merusak budi pekerti manusia dan mengarah kepada kesyaitanan.

VIII.            Penutup
Setelah membahas berbagai seni dan budaya lokal ini, kita telah mengetahui bagaimana Islam berpengaruh besar terhadap peradaban budaya di Nusantara ini. Metode-metode dakwah yang dilakukan para ulama telah berhasil secara jelas. Dimana seni budaya di Nusantara telah menjadi seni yang religious (islam) tanpa merubah total budaya itu sendiri. Seperti alam hal tahlilan. Tahlilan termasuk budaya hindu untuk menghormati orang yang telah mati, atau merayakan dengan dupa dan sebagainya. Namun dalam Islam di ubah atau diisi dengan membaca yasin dan surat-surat pendek. Kemudian dupa diganti jajan atau makanan untuk dibawa pulang.
Dipungkiri atau tidak, budaya lokal  suku-suku di Nusantara masih menjadi kebiasaan masyarakat. Bila pandang dari sisi budaya, maka upacara-upacara tersebut memperkaya khasanah kebudayaan lokal di Nusantara.
Untuk itu, siapapun orangnya, sebagai manusia Indonesia yang berbudaya diharapkan dalam menyikapi adanya keragaman budaya tersebut, memiliki landasan-landasan yang arif dan bijaksana, dengan tetap berusaha menyempurnakan dan berusaha menjaga kemurnian aqidah islam yang benar. Agar budaya tersebut melahirkan sikap-sikap menyekutukan Allah SWT.



Daftar Pustaka
Abdullah taufik,sejarah lokal di Indonesia, gadjah mada: Jakarta 2005
Soekmono R. pengantar sejarah kebudayaan i8ndonesia 2 , kanisius: yogjakarta  1979
issiniyatun, sejarah kebudayaan islam,MGP jepara: 2008


[1] Dalam konteks agama Islam, kata ummah bermakna seluruh persebaran umat Islam atau "komunitas dari orang-orang yang beriman" (ummatul mu'minin), bermakna seluruh Dunia Islam
[2] Ibnu Arabi dilahirkan pada tanggal 28 Juli 1165 di Al-Andalus, Spanyol. Salah satu ulama besar Islam
[3] Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Lebih lanjutnya lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Estetika
[4] Dinamakan gaya kufi, karena asal muasal tulisan jenis ini dari kufah (Irak).
[5] Tari zipin berasal dari demak. Salah satu karya seni ciptaan dari Sunan Kalijaga
[6] Hamzah al-Fansuri atau dikenal juga sebagai Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup di abad ke-16. Meskipun nama 'al-Fansuri' sendiri berarti 'berasal dari Barus' (sekarang berada di provinsi Sumatera Utara) sebagian ahli berpendapat ia lahir di Ayuthaya, ibukota lama kerajaan Siam (Thailand)
[7] Tuan guru adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh masyarakat sasak kepada seseorang karena memenuhi criteria tertentu.
[8] Sebutan orang-orang Jawa yang di sematkan kepada orang yang ahli dalam membuat keris atau pusaka selain gelar kehormatan
[9]
[10] Salah satu hasil karya dari Sunan kalijaga. Sunan yang terkenal dengan seni wayang kulitnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar